#Curhat

Sore ini , aku mendapatkan sebuah pelajaran dari seorang Pak Hamid.

Driver GM yang juga incharge sebagai Bell Driver .
Jika masih hidup ,Pak Hamid mungkin seumuran papa , beliau adalah staff paling tua di hotel ini .
Sore ini kami saling bertukar cerita di ruanganku, aku mengungkapkan bahwa aku akan resign per tanggal tiga Juli nanti.

Kulihat mata Pak Hamid berkaca kaca, beliau memang orang tua paling sensitif yang pernah kukenal . Pemandangan serupa pernah kutemui saat kami mendengar Hotel Manager kami yang terdahulu akan mengajukan resign.

Ia lantas bercerita tentang masa masa pre opening dulu , masa masa yang menyenangkan . Masa masa yang penuh perjuangan.

Aku tersenyum dipaksakan , dihotel ini mungkin yang masih terjebak dengan masa lalu hanya aku dan Pak Hamid saja .
Tak bisa dipungkiri bahwa aku pun sering terkenang akan masa masa pre opening dulu , masa masa dimana berangkat kerja seperti akan berangkat ke Taman Ria .
Pak Hamid lantas mendoakanku , mendoakan kemajuan karirku , mendoakan jodoh , dan kehidupan yang lebih baik bagiku . Aku sangat terharu .
Sejak dulu , aku selalu beranggapan bahwa hadiah terbaik yang bisa kita berikan pada sesorang adalah Doa yang tulus dari dalam hati .

Karena lebih mudah menemukan seseorang yang bisa memberikan dan membelikan apapun yang kita inginkan , daripada seseorang yang sanggup mendoakan kita dengan hati yang tulus , tanpa tedeng aling aling .

Iklan

Keliling

Sore ini aku keliling kompleks baru untuk pertama kalinya ,
Seperti dugaanku , dari tiga cluster yang dibuka masing masing cluster punya “special spot” sendiri sendiri.

Aura kompleks perumahan ini mengingatkan aku sama komik ” Kedai Tasogare ” ( Bahkan aku sempat berharap ada Kaname Mikoshiba disini (˘_˘). )

Dimulai dari Cluster Iris , tempat tinggalku sekarang.

Cluster Iris punya sebuah taman hijau yang asri dengan pepohonan rindang dan tanaman perdu yang cantik . Ada tiga buah bangku warna coklat di beberapa spot taman . Di bagian tengah agak ke kanan juga ada kolam kecil dengan air mancur dari pipa penyulingan . Taman itu juga dibatasi dengan pagar yang langsung berseberangan dengan waduk besar.

Tempat yang asik buat mencari inspirasi atau sekedar santai sore sore .
Tempat kedua adalah cluster Jasmine .
Rumah rumah di cluster ini diatur mengelilingi sebuah waduk berbentuk lingkaran yang lumayan besar . Waduk itu dibatasi dengan tiang tiang berukuran sedang berwarna putih . Tak ada tanaman atau ornamen yang membuatnya tampak istimewa sih . Oh iya , Cluster Jasmine ini terkesan gersang sih menurutku . Auranya mirip dengan toko mainan di komplek pertokoan di dalam komik yang kubaca . Beda sekali dengan Cluster Iris yang terkesan asri dan sejuk , mengingatkan aku sama pekarangan toko Kawahori ^^
Dan yang terakhir adalah cluster Gladiol , di cluster ini rumah rumahnya nampak paling besar dan paling mewah dibandingkan cluster cluster yang lain . Di Cluster ini tak ada kolam atau waduk . Special spotnya adalah sebuah pendopo di tengah tengah kompleks . Bagian tengah pendopo itu berbentuk kubah dengan 4 tiang yang menyangga . Mirip seperti tempat pertunjukan musik seniman jalanan di Eropa . Oh iya , bagian depannya juga mirip dengan fondasi colloseum Paris lho . Sentuhan Eropa sangat mendominasi special spot di cluster ini . Oh iya , pendopo itu juga dikelilingi oleh taman rumput yang cukup luas . Bayangkan ,jika ada sebuah pertunjukan , maka si artis akan pentas di pendopo dan penonton duduk lesehan di rumput . Jadi penonton dapat memandangi si artis dari semua arah .
Kesimpulannya , komplek Citra Graha ini memang komplek yang asri , sejuk dan nyaman . Banyaknya deretan pepohonan dan tumbuhan perdu menghadirkan lingkungan dengan udara yang sehat di Banjarmasin yang panas dan kering ini . Tapi , dari semua pohon yang ditanam disini , kenapa sih nggak ada satupun tumbuhan yang bisa dimakan ? ƪ(°͡▿▿▿▿▿▿°”)͡ƪ

Conversation with 30+ Man

Suatu malam di sebuah foodcourt di satu satunya pusat perbelanjaan terbesar di Banjarmasin , aku duduk bersama salah seorang lelaki level D.

Ia sedang asyik menyantap sepiring ayam lalapan pesanannya , barusan ia bercerita bahwa waiter di kedai dimana ia memesan lalapan tahu benar seleranya.

Ia lantas memuji kecakapan waiter tersebut . Aku hanya tersenyum pahit mendengar ceritanya . Belakangan kudengar gosip bahwa lelaki di depanku ini adalah seorang gay . Dan gosip itu dihembuskan oleh anak anak buahnya sendiri .Bahkan gosip ini pun sudah santer di kalangan departemen sebelah .
Namun aku masih berkeras , tak percaya walaupun mereka telah menyodorkan bukti bukti berupa cerita dan kesaksian dari semua staff bawahan lelaki ini . Aku merasa tahu betul seperti apa lelaki di hadapanku ini , walaupun ia masih single di usia menjelang 40 , aku yakin itu hanya karena ia terlalu perfeksionis bukan karena ia gay atau semacamnya .
Namun , kepercayaan diri itu langsung runtuh ketika aku tak sengaja membuka inbox pesan pesan di handphonenya beberapa saat yang lalu . Memang tak ada baris kalimat yang menjelaskan dengan frontal bahwa ia adalah seorang gay . Namun dari caranya bicara , caranya menyapa , caranya merajuk minta perhatian pada kawan kawan lelaki di kontak ponselnya sudah cukup menjelaskan semuanya .
“Hay , kau kenapa melamun ? Cepat makan , nanti kita tak keburu nonton kalau kau makan selambat ini ” tegurnya tiba tiba
Aku seketika terkejut dan spontan menyendokkan sepiring bakmi yang tak enak ini ke dalam mulutku .
“Tak usah kau pikirkan si ****** itu , nanti kau cepat tua ” ujarnya padaku . Aku tertawa kecil ,
“Ih , siapa yang mikirin dia ? Orang saya lagi merenung kok ”
” Merenung ? ”
” Lebih tepatnya bertanya ”
” Apa ? ”
” Saya lagi bertanya tanya , Berharap itu dosa nggak ya ? ” ,pancingku

“Tergantung kau berharap apa dulu ”

” Jadi gini, Ada seorang teman yang saya kasihi , seorang laki laki .
Di mata saya dia adalah sosok yang nyaris sempurna. Paruh baya, matang, single, dan mapan. Namun sayang, nampaknya kawan saya ini adalah seorang gay. Bukan gay terang terangan sih, ia begitu pintar mengelabui semua orang hingga mereka mengira bahwa

kawan saya ini lelaki sejati. Namun tidak , ia tidak akan bisa mengelabui mata saya ”
Kulihat sekilas , ia tampak tersedak mendengar penuturanku barusan .
” Lantas apa yang kau harapkan dari lelaki seperti itu ? ” Tanyanya
” Egoiskah saya jika saya berharap ia akan kembali normal ? ” Tanyaku

Take Off

Here I am , di waiting room Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin . Menunggu pesawat yang akan membawa saya pulang.

Pulang ? Saya nggak lagi yakin bahwa Mojokerto adalah “pulang” bagi saya.

Terakhir saya kesana , rasanya begitu asing, tak seperti di rumah. Saat ini saya kehilangan arti ” pulang ” .

Entah karena saya terlalu larut dengan rutinitas atau memang saat ini saya masuk dalam fase dimana saya mulai dilepas untuk mencari arti ” pulang ” bagi saya sendiri .

Yah .. Mungkin ya ?
Tapi yang jelas saat ini saya merasa kosong . Hampir nggak merasa apa apa .
Kalau biasanya saya akan berkhayal sembari menunggu atau sekedar berimajinasi.

Yang saya pikirkan di kepala saya adalah carlo, dan rivo, dan teman – teman SMA saya dan Mak Hwa, dan tetangga – tetangga.

Oh iya dan baterai smartphone yang hampir habis . Sejauh ini saya tak menemukan tempat untuk mengisi baterai .

Banjarmasin 16 Februari 2013
18.24 WITA

At the waiting room

At waiting room Syamsudin Noor Airport setelah menunggu lebih dari sejam dari perjanjian waktu berangkat .
Bahasa gampangnya , delay tanpa pemberitahuan .
Dengan sms sms bawel dari carlo yang terus menanyakan kapan pesawat singa ini berangkat .
Saya benar benar berada di situasi yang sangat datar .
Membalas sms carlo tanpa emosi .
Dan lapar .
Saya lapar .. Cuma itu yang ada di benak saya .

puisi sore

Aku tak pernah benar benar sadar betapa indahnya langit sore sampai aku berbaring di rerumputan memandanginya

Pagi memeluk erat tubuhku , berharap itu dirimu
Tapi dirimu adalah pangeran
Dan aku putri kabut pagi
Kau tak pernah benar benar menyadari betapa aku mencintaimu
Betapa besar keinginanku untuk melindungimu dari segala luka

Matahari sudah tinggi , saatnya kabut pergi …