Conversation with 30+ Man

Suatu malam di sebuah foodcourt di satu satunya pusat perbelanjaan terbesar di Banjarmasin , aku duduk bersama salah seorang lelaki level D . Ia sedang asyik menyantap sepiring ayam lalapan pesanannya , barusan ia bercerita bahwa waiter di kedai dimana ia memesan lalapan tahu benar seleranya . Ia lantas memuji kecakapan waiter tersebut . Aku hanya tersenyum pahit mendengar ceritanya . Belakangan kudengar gosip bahwa lelaki di depanku ini adalah seorang gay . Dan gosip itu dihembuskan oleh anak anak buahnya sendiri .Bahkan gosip ini pun sudah santer di kalangan departemen sebelah .
Namun aku masih berkeras , tak percaya walaupun mereka telah menyodorkan bukti bukti berupa cerita dan kesaksian dari semua staff bawahan lelaki ini . Aku merasa tahu betul seperti apa lelaki di hadapanku ini , walaupun ia masih single di usia menjelang 40 , aku yakin itu hanya karena ia terlalu perfeksionis bukan karena ia gay atau semacamnya .
Namun , kepercayaan diri itu langsung runtuh ketika aku tak sengaja membuka inbox pesan pesan di handphonenya beberapa saat yang lalu . Memang tak ada baris kalimat yang menjelaskan dengan frontal bahwa ia adalah seorang gay . Namun dari caranya bicara , caranya menyapa , caranya merajuk minta perhatian pada kawan kawan lelaki di kontak ponselnya sudah cukup menjelaskan semuanya .
“Hay , kau kenapa melamun ? Cepat makan , nanti kita tak keburu nonton kalau kau makan selambat ini ” tegurnya tiba tiba
Aku seketika terkejut dan spontan menyendokkan sepiring bakmi yang tak enak ini ke dalam mulutku .
“Tak usah kau pikirkan si ***** itu , nanti kau cepat tua ” ujarnya padaku . Aku tertawa kecil ,
“Ih , siapa yang mikirin dia ? Orang saya lagi merenung kok ”
” Merenung ? ”
” Lebih tepatnya bertanya ”
” Apa ? ”
” Saya lagi bertanya tanya , Berharap itu dosa nggak ya ? ” ,pancingku
“Tergantung kau berharap apa dulu , kalau kau berharap si ***** cepat cerai dari istrinya ya berdosalah ”
” Ckk .. Selalu aja dikait kaitkan sama pak ***** . Nggak ada hubungannya ! ” Ujarku sewot
” Lantas ? ”
” Ada seorang teman yang saya kasihi , seorang laki laki .
Di mata saya dia adalah sosok yang nyaris sempurna . Paruh baya , matang , single , dan mapan . Namun sayang , nampaknya kawan saya ini adalah seorang gay . Bukan gay terang terangan sih , ia begitu pintar mengelabui semua orang hingga mereka mengira bahwa kawan saya ini lelaki sejati . Namun tidak , ia tidak akan bisa mengelabui mata saya ”
Kulihat sekilas , ia tampak tersedak mendengar penuturanku barusan .
” Lantas apa yang kau harapkan dari lelaki seperti itu ? ” Tanyanya
” Egoiskah saya jika saya berharap ia akan kembali normal ? ” Tanyaku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s